Ya Allah…

“Ya Allah…”
Sadar atau tidak, itulah ucapan yang sering kali keluar dari lisan kita saat kita merasakan adanya hal yang membuat kehidupan kita berat, susah, sedih, dan kita merasa bahwa Allah sedang menguji kita. “Ya Allah… Kenapa begitu berat beban hidup yang harus hamba jalani? Ya Allah… Kenapa Engkau menguji hambaMu dengan cobaan yang tak sanggup hamba memikulnya? Ya Allah…

Sering kali kita mengingat asma Allah tatkala banyaknya masalah yang sedang kita hadapi, lalu memperbanyak istighfar seraya menguraikan untaian do’a disertai cucuran air mata penuh harap agar Allah segera memberikan jalan keluar. “Ya Allah… Ampunilah setiap kesalahan hamba yang hamba lakukan secara sadar ataupun tidak. Ya Allah… Apakah Engkau tega membiarkan hambaMu terus berada dalam kesulitan seperti ini? Ya Allah… Aku yakin Engkau tidak akan menzhalimi hambaMu sendiri, maka berikanlah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini. Ya Allah…

Namun… Apa yang sering kita lakukan disaat kita diberikan nikmat berupa kesenangan? Masih ingatkah dengan ucapan “Ya Allah…” yang sebelumnya selalu terbersit ketika kita berada dalam kesulitan? Masih ingatkah dengan istighfar dan rangkaian do’a yang disertai cucuran air mata yang sebelumnya dijadikan “senjata” agar Allah iba kepada kita? Kita melupakan Allah di saat segala sesuatu di sekeliling kita membahagiakan. Kita merasa tidak perlu lagi memohon ampun dan berdo’a disaat-saat Allah “mengembalikan” kesenangan dan keceriaan dalam kehidupan kita. Ya Allah…

Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kapada Ibnu ‘Abbas yang saat itu menjelang remaja dan belum memahami apa yang akan dilakukan oleh Allah terhadap dirinya:
Hai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan berikut: peliharalah Allah, niscaya Dia akan memeliharamu; peliharalah Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya dihadapanmu; kenalilah Allah saat senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu susah; apabila kamu meminta, mintalah pada Allah; dan apabila kamu meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. …” (HR. Tirmidzi dengan sanad yang berpredikat shahih)

Mampukah kita menjaga agar Allah selalu berada dalam hati, pikiran, lisan, dan kehidupan kita?
Mampukah kita mengingat Allah tidak hanya disaat-saat sulit?
Akankah istighfar itu terucap tatkala kita diliputi kebahagiaan?
Akankah do’a-do’a itu terurai ketika kita merasa tidak ada masalah dan kesulitan yang sedang dihadapi?

Mengenali Allah disaat susah itu biasa. Tapi mengenali Allah disaat senang itu luar biasa. Lalu mampukah kita mengenali Allah disaat kita senang? Kalau kita tidak bisa lakukan, mungkin inilah saat yang tepat untuk beristighfar dan memohon ampunan kepada Allah karena kita telah melupakan-Nya. “Astaghfirullahal ‘azhiim.. Ya Allah… Maafkanlah atas kelalaian hamba karena telah melupakanMu.. Ya Allah… Berikanlah kekuatan dan kemampuan kepada hamba untuk tetap mengenalimu dalam setiap detik kehidupan yang hamba lalui. Ya Allah…

Wallahu a’lam..

Advertisements

About Nanang Lesmana

I am a teacher in SMK PKP 1 DKI Jakarta. I live in Pasar Rebo, East Jakarta. I am studying in UHAMKA Post Graduate School
This entry was posted in Miscellaneous. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s